HALMAHERA SELATAN – Hampir 60 hari berlalu sejak seorang pekerja ditemukan meninggal dunia setelah sebelumnya sempat menghilang. Namun hingga kini, pihak keluarga masih mempertanyakan penyebab pasti kematian korban serta rangkaian peristiwa yang terjadi sebelum korban ditemukan tidak bernyawa.
Keluarga korban melalui kuasa hukumnya, Noldi Kurama, S.H., mendesak Kepolisian Resor Halmahera Selatan (Polres Halsel) agar mengusut kasus tersebut secara menyeluruh, transparan dan profesional.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Desakan tersebut muncul karena keluarga menilai masih terdapat sejumlah pertanyaan yang belum terjawab, mulai dari komunikasi terakhir korban dengan keluarga, keberadaan orang-orang yang terakhir bersama korban, dugaan hilangnya saldo ATM, sistem keamanan mess perusahaan, rekaman CCTV, data manifes pekerja hingga hasil autopsi jenazah.
Kontak Terakhir Korban pada 15 Juni 2026
Berdasarkan keterangan keluarga, korban masih sempat menghubungi salah seorang keluarganya yang berada di Sulawesi Utara pada Senin, 15 Juni 2026.
Komunikasi tersebut disebut menjadi kontak terakhir korban dengan keluarga sebelum akhirnya korban tidak lagi dapat dihubungi.
Dalam komunikasi terakhir itu, korban disebut menyampaikan bahwa dirinya menghubungi salah seorang karyawan. Setelah itu, korban kemudian diantar menggunakan mobil untuk menemui tiga orang temannya.
Namun, korban tidak menyebutkan secara jelas identitas ketiga orang yang hendak ditemuinya.
Sejak komunikasi tersebut, korban kemudian kehilangan kontak.Dua hari kemudian, Rabu, 17 Juni 2026, korban ditemukan mengapung di pantai dalam kondisi sudah tidak bernyawa.
Rentang waktu antara komunikasi terakhir korban dengan keluarga hingga korban ditemukan meninggal dunia kini menjadi salah satu bagian yang diminta keluarga untuk ditelusuri secara mendalam oleh aparat kepolisian.
Kuasa hukum keluarga korban, Noldi Kurama, S.H., secara khusus meminta penyidik memeriksa empat orang yang dinilai memiliki informasi penting mengenai keberadaan korban sebelum menghilang.
Mereka terdiri dari seorang karyawan yang disebut mengantar korban menggunakan mobil serta tiga orang teman yang hendak ditemui korban.
Menurut Noldi, keterangan dari keempat orang tersebut penting untuk membangun kronologi terakhir korban sebelum kehilangan kontak dengan keluarga.
Polisi diminta menggali informasi mengenai kapan korban dijemput, kendaraan yang digunakan, siapa saja yang berada di dalam kendaraan, ke mana korban dibawa, siapa yang ditemui, serta kapan terakhir kali korban terlihat.
“Kami mendesak pihak kepolisian sesuai dengan keterangan korban pada hari terakhir sebelum hilang kontak dengan keluarga untuk dapat meminta keterangan terhadap seorang karyawan yang mengantar korban dan tiga orang teman korban. Mereka perlu diperiksa karena diduga mengetahui keberadaan korban sebelum ditemukan meninggal dunia,” ujar Noldi Kurama, S.H.
Ia menegaskan bahwa pemeriksaan terhadap orang-orang terakhir yang berinteraksi dengan korban sangat penting untuk memastikan seluruh rangkaian kejadian dapat terungkap.
Saldo ATM Korban Disebut Hilang Selain keberadaan korban sebelum meninggal dunia, pihak keluarga juga mempertanyakan dugaan hilangnya saldo rekening ATM korban.
Persoalan tersebut menjadi salah satu alasan keluarga meminta polisi melakukan penyelidikan lebih mendalam.
Menurut keluarga, aktivitas rekening korban perlu ditelusuri secara menyeluruh, termasuk waktu transaksi, lokasi transaksi, jumlah transaksi dan pihak yang melakukan akses terhadap rekening tersebut apabila terdapat transaksi setelah korban kehilangan kontak.
Noldi Kurama, S.H. mengatakan, pihak keluarga sejak awal menduga kematian korban tidak wajar dan meminta polisi tidak menutup kemungkinan adanya tindak pidana.
“Patut diduga ini pembunuhan karena saldo ATM korban hilang. Namun dugaan tersebut tentunya harus dibuktikan melalui proses penyelidikan. Polisi harus bekerja ekstra untuk menyelidiki dan mengungkap penyebab kematian korban,” tegasnya.
Menurutnya, pihak keluarga tidak bermaksud mengambil kesimpulan sendiri. Mereka hanya meminta seluruh kemungkinan diperiksa berdasarkan bukti.
Sistem Keamanan Mess Perusahaan Dipertanyakan Sorotan berikutnya diarahkan kepada sistem keamanan di lingkungan perusahaan tempat korban bekerja dan tinggal.
Korban diketahui tinggal di mess perusahaan. Karena itu, keluarga mempertanyakan bagaimana aktivitas korban sebelum menghilang dapat terjadi tanpa adanya informasi yang jelas dari sistem keamanan perusahaan.
Pihak keluarga mempertanyakan apakah korban terekam CCTV ketika meninggalkan mess, siapa saja yang berada di sekitar lokasi, kendaraan apa yang digunakan serta siapa yang keluar dan masuk dari kawasan perusahaan pada saat itu.
“Kami sangat menyayangkan terkait keamanan di dalam perusahaan. Tidak rasional ketika pada hari korban hilang, korban tidak terlihat sedikit pun dalam pengawasan CCTV. Padahal korban tinggal di mess perusahaan,” kata Noldi.
Menurutnya, sistem keamanan seharusnya mampu memberikan informasi mengenai aktivitas pekerja, terutama apabila terjadi peristiwa hilangnya seorang pekerja.
CCTV dan Manifes Pekerja Diminta Dibuka
Noldi juga meminta pihak perusahaan membuka data yang berkaitan dengan aktivitas korban.
Mulai dari rekaman CCTV, data keluar-masuk pekerja, manifes pekerja, pergantian shift, hingga catatan kendaraan yang keluar dan masuk kawasan perusahaan.
Menurutnya, data tersebut dapat menjadi petunjuk penting bagi penyidik untuk mencocokkan keterangan para saksi dengan kondisi sebenarnya di lapangan.
Rekaman CCTV pada tanggal 15 hingga 17 Juni 2026 dinilai perlu diperiksa secara khusus untuk mengetahui aktivitas korban sebelum dan setelah kehilangan kontak dengan keluarga.
Apabila terdapat rekaman yang menunjukkan keberadaan korban atau orang-orang yang berinteraksi dengannya, maka informasi tersebut diharapkan dapat membantu polisi mengungkap kronologi.
SRM dan Pihak Harita Diminta Transparan
Kuasa hukum keluarga juga mendesak pihak Security Relationship Management (SRM) perusahaan dan pihak Harita untuk terbuka dalam membantu proses pengungkapan kasus.
Noldi meminta perusahaan memberikan informasi dan data yang relevan kepada aparat penegak hukum apabila dibutuhkan untuk kepentingan penyelidikan.
“Kami mendesak Security Relationship Management (SRM) pihak perusahaan dan Harita harus terbuka untuk mengungkap kematian klien kami yang sejak awal kami duga meninggal secara tidak wajar,” tegas Noldi.
Menurutnya, keterbukaan perusahaan bukan hanya penting bagi keluarga korban, tetapi juga menyangkut aspek keselamatan seluruh pekerja yang berada di lingkungan perusahaan.
“Ini artinya perusahaan tidak dalam kondisi aman lagi untuk para pekerja kalau kemudian kasus-kasus seperti ini tidak dapat diungkap,” lanjutnya.
Hasil Autopsi Masih Dinantikan Di tengah desakan tersebut, keluarga korban juga masih menunggu hasil autopsi jenazah.
Keluarga menyebut autopsi telah dilakukan beberapa waktu lalu. Namun hingga kini mereka masih menunggu hasil yang dapat menjelaskan penyebab pasti kematian korban.
Bagi keluarga, hasil pemeriksaan forensik tersebut sangat penting untuk mengetahui apakah korban meninggal akibat kecelakaan, tenggelam, faktor medis, atau terdapat indikasi lain yang perlu ditindaklanjuti secara hukum.
Jika hasil pemeriksaan menunjukkan adanya tanda-tanda kekerasan atau sebab kematian yang tidak wajar, keluarga berharap aparat segera melakukan pendalaman.
Sebaliknya, apabila hasil autopsi menunjukkan penyebab lain, keluarga juga meminta penjelasan tersebut disampaikan secara transparan berdasarkan hasil pemeriksaan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Polres Halsel Didesak Ungkap Kasus Secara Terang Memasuki hampir 60 hari sejak korban ditemukan meninggal dunia, keluarga meminta Polres Halmahera Selatan segera memberikan kejelasan mengenai penanganan kasus tersebut.
Noldi Kurama, S.H. mendesak penyidik memeriksa seluruh saksi yang berkaitan dengan keberadaan korban, menelusuri CCTV, memeriksa data manifes pekerja, menelusuri kendaraan yang digunakan korban, memeriksa komunikasi terakhir serta mengusut aktivitas rekening korban.
Menurutnya, seluruh informasi tersebut perlu dianalisis secara bersama-sama agar penyidik dapat memperoleh gambaran yang utuh mengenai apa yang sebenarnya terjadi.
“Kami mendesak pihak Kepolisian Resor Halmahera Selatan untuk membuka kasus ini secara terang benderang. Kami juga masih menunggu hasil autopsi jenazah yang telah dilakukan beberapa waktu lalu,” ujarnya.
Keluarga Hanya Meminta Kepastian
Bagi keluarga, hampir 60 hari menunggu tanpa kepastian merupakan waktu yang tidak singkat.
Mereka ingin mengetahui apa yang terjadi setelah korban melakukan komunikasi terakhir dengan keluarga pada 15 Juni 2026.
Mereka ingin mengetahui siapa karyawan yang mengantar korban, siapa tiga orang yang hendak ditemui korban, bagaimana korban kemudian kehilangan kontak, serta siapa yang terakhir melihat korban sebelum ditemukan meninggal dunia.
Keluarga juga meminta kepolisian mengungkap kebenaran mengenai dugaan hilangnya saldo ATM korban.
Seluruh pertanyaan tersebut, menurut Noldi Kurama, S.H., harus dijawab melalui proses hukum dan berdasarkan alat bukti, bukan sekadar dugaan atau spekulasi.
“Kami tidak ingin menuduh siapa pun tanpa bukti. Yang kami minta adalah proses penyelidikan dilakukan secara profesional, seluruh saksi diperiksa, seluruh bukti ditelusuri dan hasil autopsi dijelaskan,” ujarnya.
Keluarga berharap Polres Halmahera Selatan dapat bekerja secara objektif dan transparan hingga kasus tersebut memperoleh titik terang.
Apabila dalam proses penyelidikan ditemukan bukti adanya tindak pidana, keluarga meminta pihak yang terbukti bertanggung jawab diproses sesuai ketentuan hukum.
Namun apabila hasil penyelidikan menunjukkan korban meninggal karena sebab lain, keluarga juga meminta kepastian tersebut disampaikan secara resmi berdasarkan fakta dan hasil pemeriksaan.
Hampir 60 hari berlalu, tetapi pertanyaan keluarga masih sama: apa yang sebenarnya terjadi terhadap korban setelah komunikasi terakhir pada 15 Juni 2026 hingga akhirnya ditemukan meninggal dunia pada 17 Juni 2026?
Kini keluarga menyerahkan proses pengungkapan tersebut kepada aparat penegak hukum sembari meminta pihak perusahaan bersikap terbuka.
Mereka berharap seluruh bukti, mulai dari CCTV, data manifes pekerja, keterangan saksi, aktivitas rekening hingga hasil autopsi, dapat diperiksa secara menyeluruh.
Sebab bagi keluarga, kematian seorang pekerja bukan sekadar peristiwa yang harus dilupakan. Di baliknya terdapat keluarga yang berhak memperoleh kepastian mengenai apa yang sebenarnya terjadi dan mengapa orang yang mereka cintai akhirnya ditemukan meninggal dunia.









