Bacan Timur Tengah, WartaGlobal.Id – Momentum sakral malam takbiran di Desa Bibinoi, Kecamatan Bacan Timur Tengah, tercoreng akibat pemadaman listrik yang berlangsung berjam-jam tanpa kejelasan. Peristiwa ini memantik kemarahan warga yang menilai pelayanan listrik tidak profesional pada saat krusial menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 H/2026 M.
Sejak malam hari, aliran listrik dilaporkan padam secara tiba-tiba dan tidak kunjung normal. Kondisi tersebut membuat aktivitas masyarakat lumpuh total. Persiapan hidangan lebaran terhenti, pelaksanaan ibadah terganggu, hingga gema takbir yang semestinya berlangsung khidmat berubah menjadi keluhan di tengah kegelapan.
“Ini bukan sekadar lampu mati, ini merusak momen penting umat Islam. Tidak ada pemberitahuan, tidak ada kejelasan,” ujar seorang warga dengan nada geram.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Situasi ini memperlihatkan lemahnya sistem mitigasi dan komunikasi krisis dari pihak Perusahaan Listrik Negara (PLN). Di tengah momentum keagamaan yang membutuhkan stabilitas layanan, justru terjadi gangguan yang dinilai sebagai bentuk kelalaian serius dalam menjaga keandalan pasokan listrik.
Selain mengganggu kenyamanan, padamnya listrik juga memicu kekhawatiran warga terhadap aspek keamanan. Lingkungan yang gelap gulita meningkatkan potensi gangguan ketertiban, sementara sebagian warga tidak memiliki sumber penerangan alternatif.
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa gangguan serupa bukan kali pertama terjadi. Warga menilai persoalan listrik di wilayah tersebut kerap berulang tanpa solusi permanen. Hal ini memperkuat dugaan adanya persoalan mendasar dalam manajemen distribusi dan pengawasan jaringan listrik di tingkat daerah.
“Kalau di malam takbiran saja bisa mati berjam-jam, lalu di mana tanggung jawab pelayanan publik?” kata warga lainnya.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak PLN belum memberikan klarifikasi resmi terkait penyebab pemadaman maupun estimasi pemulihan. Ketiadaan informasi ini dinilai melanggar prinsip transparansi pelayanan publik dan memperburuk kepercayaan masyarakat.
Dalam perspektif kode etik jurnalistik, informasi ini disusun berdasarkan keterangan warga terdampak dan pengamatan lapangan, dengan tetap membuka ruang hak jawab bagi pihak terkait. Namun, absennya respons dari PLN menjadi catatan serius dalam akuntabilitas pelayanan.
Warga Desa Bibinoi mendesak adanya evaluasi menyeluruh terhadap sistem pelayanan listrik di Bacan Timur Tengah. Mereka meminta PLN tidak hanya bersifat reaktif, tetapi mampu menjamin keandalan listrik, terutama pada momen penting keagamaan yang menyangkut kepentingan publik luas.
Jika kondisi ini terus dibiarkan tanpa pembenahan konkret, maka kepercayaan masyarakat terhadap layanan dasar negara berpotensi mengalami degradasi yang lebih dalam.
“Yang kami butuhkan bukan janji, tapi bukti nyata pelayanan yang bisa diandalkan,” tutup salah satu warga.









