Halmahera Tengah — Penyesuaian Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) tahun 2026 di kawasan tambang nikel Weda Bay Nickel (WBN) mulai memunculkan dampak besar bagi para pekerja di lapangan. Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang terjadi belakangan ini meninggalkan luka mendalam bagi banyak karyawan dan keluarga mereka.
Di balik angka-angka produksi dan kebijakan industri pertambangan, ada ribuan harapan yang kini berada di ujung ketidakpastian. Curahan hati para pekerja tambang yang terdampak PHK pun mulai ramai diperbincangkan publik karena menggambarkan kerasnya realita yang sedang mereka hadapi.
Salah satunya datang dari Mas Yudi, mantan pekerja proyek di kawasan WBN, yang mengaku tak pernah membayangkan hari terakhirnya bekerja datang begitu cepat. Bertahun-tahun ia mengabdikan tenaga dan waktunya di tengah kerasnya dunia tambang demi satu tujuan sederhana: menghidupi keluarga.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Setiap hari kami bekerja di bawah panas matahari, hujan, lumpur, debu, dan risiko tinggi. Semua dijalani karena kami percaya pekerjaan ini bisa menjadi jalan untuk masa depan keluarga kami,” ungkapnya penuh haru.
Bagi para pekerja, kawasan tambang bukan sekadar tempat mencari nafkah. Di sana ada perjuangan, pengorbanan, dan harapan besar yang dibangun perlahan dari hasil kerja keras setiap hari. Mereka rela jauh dari keluarga, menghadapi risiko pekerjaan berat, hingga bertahan di tengah tekanan demi memastikan dapur tetap menyala.
Namun ketika isu penyesuaian RKAB mulai mencuat, rasa cemas perlahan menyelimuti para pekerja. Banyak yang masih berharap operasional tetap berjalan normal dan mereka bisa mempertahankan pekerjaan. Hingga akhirnya keputusan PHK benar-benar datang dan memukul kehidupan mereka.
“Yang paling berat bukan saat menerima kabar diberhentikan. Yang paling berat adalah pulang ke rumah, melihat anak dan istri berharap semuanya baik-baik saja, sementara di kepala penuh pertanyaan tentang masa depan,” tuturnya.
Kini berbagai kekhawatiran menghantui para pekerja terdampak PHK. Mulai dari cicilan rumah, biaya pendidikan anak, kebutuhan sehari-hari, hingga sulitnya mencari pekerjaan baru di tengah kondisi industri tambang nikel yang sedang mengalami perlambatan.
Curahan hati tersebut membuka sisi lain kehidupan pekerja tambang yang selama ini jarang terlihat publik. Di balik helm proyek dan seragam kerja lapangan, ada kepala keluarga yang sedang berjuang mempertahankan kehidupan mereka di tengah ketidakpastian ekonomi.
Meski kecewa dan sedih, para pekerja mengaku memahami bahwa kondisi industri pertambangan saat ini memang sedang tidak mudah. Penyesuaian RKAB disebut menjadi bagian dari dinamika kebijakan sektor tambang nasional yang turut memengaruhi aktivitas operasional perusahaan.
Namun demikian, mereka berharap pemerintah dapat hadir memberikan perhatian nyata terhadap nasib para pekerja yang terdampak. Mereka meminta agar keberlangsungan lapangan kerja di sektor tambang tetap menjadi prioritas di tengah penyesuaian kebijakan industri.
“Kami tidak meminta dikasihani. Kami hanya berharap diberi kesempatan untuk tetap bekerja, tetap berkarya, dan tetap mampu menghidupi keluarga dengan cara yang baik dan terhormat,” tulis salah satu pekerja dalam curahan hatinya yang kini viral di media sosial.
Para pekerja juga berharap pemerintah, khususnya Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia, dapat mempercepat kepastian RKAB serta menjaga stabilitas investasi dan operasional industri tambang nikel di daerah.
Mereka menilai kepastian regulasi sangat penting untuk menjaga keberlangsungan pekerjaan ribuan masyarakat yang menggantungkan hidup pada sektor pertambangan di Halmahera Tengah dan wilayah Maluku Utara secara umum.
Di tengah situasi sulit yang sedang dihadapi, para pekerja mengaku tetap bangga pernah menjadi bagian dari perjalanan industri tambang nikel di Halmahera Tengah. Pengalaman bekerja di tengah kerasnya dunia tambang disebut telah membentuk mental, ketangguhan, dan semangat bertahan hidup mereka.
Kini harapan terbesar para pekerja terdampak PHK hanya satu: agar keadaan segera membaik, operasional kembali stabil, dan kesempatan kerja kembali terbuka bagi masyarakat yang selama ini menggantungkan hidup pada sektor pertambangan.
Sebab bagi mereka, pekerjaan bukan hanya soal penghasilan — tetapi tentang menjaga harapan keluarga agar tetap hidup di tengah kerasnya perjuangan hidup.









