Bandung – Ketua Ikatan Pemuda Tionghoa Indonesia (IPTI) Jawa Barat, Maria Novia Abigail (Via Mey Chen), menegaskan bahwa perayaan “Mozaik Imlek Nusantara” yang digelar pada 13 Februari 2026 pukul 14.30 WIB di Kota Bandung menjadi momentum penting untuk memperkuat nilai kebhinekaan, toleransi, dan inklusivitas di tengah masyarakat Indonesia.
Menurutnya, Imlek tidak hanya dimaknai sebagai tradisi budaya, tetapi juga sebagai ruang refleksi untuk mempererat persaudaraan lintas suku, agama, dan latar belakang sosial.
“Perayaan Imlek Nusantara bukan sekadar tradisi, melainkan pengingat bahwa keberagaman adalah kekuatan bangsa. Perbedaan bukanlah jarak, tetapi jembatan untuk saling memahami dan memperkaya satu sama lain,” ujarnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia juga menekankan pentingnya menghadirkan ruang yang setara bagi seluruh elemen masyarakat, termasuk individu-individu spesial. Baginya, toleransi harus diwujudkan dalam tindakan nyata melalui penerimaan dan penghormatan terhadap martabat setiap manusia.
“Toleransi bukan hanya wacana, melainkan keberanian untuk menerima dan menghargai setiap individu. Individu spesial bukan untuk dikasihani, tetapi untuk dirangkul, diberi ruang, dan dihormati martabatnya sebagai bagian utuh dari masyarakat,” tambahnya.
Menutup pernyataannya, ia berharap semangat Imlek tidak hanya tercermin dalam simbol dan perayaan, tetapi juga dalam sikap empati serta kepedulian sosial yang terus hidup di tengah masyarakat.
“Semoga semangat Imlek tidak hanya tampak dari lampion yang bersinar, tetapi juga dari hati yang terbuka. Mari kita jaga Indonesia sebagai rumah bersama, tempat setiap budaya diterima, setiap perbedaan dihormati, dan setiap jiwa merasa berarti,” pungkasnya.
Asep Supriana N









